Skip navigation

Dari kemarin aku coba cari jawaban mengapa rasa malas mulai datang di kepala. Ternyata bukan satu jawaban pasti. Banyak hal yang terjadi dan akhirnya terakumulasi jadi rasa itu.

Aku tidak menyadari jika aku harus mengalami siklus dimana aku berada di satu waktu untuk rehat. Waktu dimana aku harus menghela nafas untuk kemudian bersiap untuk berlari lagi. Karena tidak mungkin kita berlari terus tanpa jeda waktu untuk berhenti.

Selain itu mungkin aku juga baru menyadari bahwa akupun punya keterbatasan fisik dan mental. Dan ini harusnya bisa membuat aku melakukan sesuatu dalam batas kemampuan. Analogikan saja dengan sebuah kendaraan yang terus melaju dengan kecepatan tinggi. Pada akhirnya bisa jadi kendaraan ini melaju dengan kecepatan yang melebihi kecepatan yang seharusnya dia mampu. Kecepatan itu bukan tercapai karena memang kemampuannya tetapi karena faktor luar, jalanan yang sedikit menurun misalnya.

Pelajaran berharga buatku. Terlebih lagi aku menghindari hal-hal diatas akan mendapatkan katalis dari kondisi disekitarku. Kondisi yang benar-benar berbeda dengan apa yang aku harapkan. Tetapi aku befikir bahwa kondisi sekitar kita janganlah menjadikan kita terpuruk. Seharusnya malah sebaliknya, kita yang harus berusaha merubah lingkungan kita agar bisa nyaman. Kita harus bisa lebih sedikit kreatif agar kodisi sekitar kita bisa nyaman. Atau….kita cari lingkungan yang baru…

Pagi ini, 27 Juli 2010 hujan mulai turun, menambah rasa malas untuk beranjak ke kantor. Hal yang mungkin selama ini aku jauhi, ‘malas’. Tetapi tak bisa aku pungkiri kalau rasa ini mulai muncul.

Aku coba untuk mencari-cari penyebabnya. Bagiku jangan sampai ini terus mengendap di kepalaku. Sesuatu yang buruk. Semoga hari ini aku bisa menemukan jawabannya.

Jangan berfikir bahwa kita akan menjadi pahlawan untuk setiap perbuatan baik yang kita lakukan. Bisa jadi sebagian orang akan berfikir terbalik dengan apa yang kita inginkan. Sehingga perbuatan baik kita menjadi ‘buruk’ bagi mereka.

Contoh saja ketika kita mencoba menghentikan laju kendaraan kita demi pejalan kaki yang hendak menyeberang. Kita akan dianggap penghalan bagi sebagian kendaraan di belakang kita. Mungkin saja akan segera terdengar bunyi klakson atau terlihat lampu pertanda terguran dari belakang.

Masih cukup banyak contoh kisah seperti di atas. Contoh cerita saat kita menjadi tersangka atas perbuatan baik. Ada pesan moral yang mungkin bisa kita petik; jangan mudah memberikan penilaian terhadap apa yang sepintas kita lihat, karena kita tidak pernah tau apa yang sesungguhnya terjadi.

Jangan juga kita berusaha untuk terlibat jika kita tidak tahu apa yang terjadi, walaupun itu hanya sekedar komentar. Terkadang komentar inilah yang justru membuat persoalan sesungguhnya jadi tidak terselesaikan. Terlebih jika komentar itu datang dari kita yang hanya ingin menunjukkan eksistensi kita saja.

Harapan baru, itu mungkin kata-kata yang tertanam di kepala sebagian orang di kantorku bekerja saat pindah dari gedung lama ke gedung baru. Terlepas dari apapun, aku termasuk yang juga banyak berharap. Mengharap bahwa kita tak hanya pindah secara fisik, tetapi pindah paradigma.

Shifting paradigm ini bukan hal yang mudah. Apalagi tidak semua orang punya niat, visi dan misi yang sama. Bagiku tidak perlu mencari siapa yang harusnya bertanggung jawab dalam perpindahan ini. Kita bisa mulai dari diri sendiri saja.

Contoh kecil yang mungkin aku bisa lakukan antara lain adalah new look. Aku coba merubah gaya berpakaianku selama ini yang terkesan masih slengek-an. Lebih sering tampil dengan celana jeans plus baju yang dikeluarkan. Lantas apa pengaruhnya?

Bagiku, aku mulai coba menggerakkan semua yang ada di sekitarku ke arah yang baru tadi, paradigma baru. Mulai dari hal-hal kecil saja. Harapan baru iru semakin kuat bagiku. Semangat baru untuk mewujudkan harapan bersama tadi mulai tumbuh. Karena jangan pernah berharap jika kita sendiri tidak punya semangat.

Sahabat,….

Memang gak semua orang punya sahabat, setidaknya sahabatmenjadi bagian dari keseharian kita. Kadang sahabat dijadikan tempat berkeluh kesah atau bahkan tempat berbagi kebahagiaan.

Apa yang terjadi jika sahabat kita sedang susah? Kesusahan yang belum pernah kita alami, bahkan tak terbayangkan. Apalagi kesusahan yang berhubungan dengan kekhilafan dan kecurangan. Bagaimanaya?

Bagiku bagaimanapun juga sahabat yah sahabat, walaupun pernah dan sedang berbuat salah. Toh kitapun punya kemungkinan berbuat salah. Siap sih yang gak pernah salah, rasanya semua orang pernah, dan bisa berbuat salah….

betul gak?

ternyata ngisi kuisioner asik juga. apalagi ini soal “stress” di tempat kerja. beberapa pertanyaan justru bikin aku tambah menyadari kondisi dan situasi di sini. misalnya pertanyaan soal apakah kita sering menrima perasaan tidak puas dengan sesuatu di kantor. he he he, ternyata semua menggambarkan situasi dan keadaan sebenarnya.

aku juga lagi berusaha membangitkan semangat untuk kembali ke bangku kuliah, maklum dulu semangat nya masih semangat “jomblo”. sekarang load pekerjaan enath pekerjaan pribadi atau formal dari kantor yang membuat semua jadi agak seret.

tapi di benak ini udah ada keinginan. apalagi tinggal nyelesaiin thesis aja. bayangan judul nya sih udah ada, cuma masalahnya belum semangat aja.

Gak sengaja nemu soal untuk test AE di kantor. uih,….ternyata sulit juga ya. tapi lumayan buat bahan pembelajaran kita. Akhirnya kita bisa ukur kemampuan kita. Yah, itung-itung kayak waktu kita masih kuliah dan sekolah dulu. Tiap semester ada ujiannya.

Sekarang lagi nanggur di kantor, lagi nunggu “job” selanjutnya. Kayaknya kalau begini terus-terusan bisa gawat. Bisa beku lagi otaknya. Atau kita cari tempat “lain” ya?  He he he, emang ada yang mau???

ughhhh,…

dah mesti balik lagi ke Jakarta. Di sisi lain, seneng sih bisa balik lagi ke rumah. tapi huuuuu, anak-anak kembar ku masih di kampung sama Kakek dan Neneknya.  Ternyata kalau gak ada anak-anak rumah terasa sepi sekali. Biasanya aku dah teriak-teriak “jangan….” , “Dede……” atau “Tata……”. Itu karena mereka,…uih semua gesit, semua mau di pegang dan semua mau di jadikan mainan.

Bentar lagi lebaran, ……

besok tgl 20 berangkat mudik, neaknya punya kampung yah begitu, kalau lebaran punya acara mudik. Walaupun prosesnya susah, maklum biaya, waktu dan tenaga tersita banyak. Tiket pesawat, bis dan kereta jadi naik semua. tapi tetep gak peduli yang penting mudik. Apalagi tahun ini si Kembar (my lovely twins) baru pertama kali mudik, emang dulu pernah ikut mudik ke kampung halaman, tapi waktu itu mereka masih di perut Bundanya, masih belum tau gimana rasanya mudik.

Apalgi ada kabar kalau besok gajian,….he he he asik donk. Padahal seharusnya gajian mau kapan aja mestinya gak ngaruh. karena kita memang gak mesti mengharapkan “tanggal muda”. itu pertanda masih belum bisa ngatur “duit”….

ups,..aku lupa cerita soal anakku si Kembar. Bgitulah orang-orang sekitarnya menyebut anakku. Fata dan Failaqa, itu nama yang aku beri, sempat konsultasi sana-sini untuk dapetin nama itu. Takut arti dan maknanya salah. Karena nama adalah doa,..betul gak?

Tetapi di rumah mereka di panggil Kk dan Dd.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.